JEJAK PERJUANGAN DAN DAKWAH ISLAMIYAH WALI SONGO

21.15

                                                   Sumber: www.walisembilan.com
Selayang Pandang

Sebagai penduduk Indonesia, kita patut bangga menjadi bagian dari negara Indonesia. Pasalnya, Indonesia mendapat predikat sebagai negara dengan penduduk muslim (beragama Islam) terbanyak se-dunia yakni 253.609.643 jiwa (Departemen Perdagangan AS, 2014). Padahal, negara Indonesia bukanlah negara Islam. Banyaknya jumlah muslim di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sejarah dakwah Islam di masa lalu. Jika berbicara tentang penyebaran Agama Islam di Nusantara, Walisongo memiliki peran yang krusial dan memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam menyebarkan agama islam seantero nusantara. Perjuangan Walisongo dapat kita rasakan hingga sekarang. Di Indonesia, kita dapat merasakan bahwa Islam adalah Rahmatan Lil ‘Alamiin.

Tentang Walisongo

            Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Arti lain walisongo dalam Bahasa Jawa songo berasal dari kata sanga yang artinya sembilan, jadi bisa diartikan walisongo adalah jumlah wali yang ada sembilan, sedangkan dalam Bahasa Arab songo atau sanga berasal dari kata tsana yang artinya mulia dan bisa diartikan sebagai wali yang mulia. (http://www.ficripebriyana.com)

            Bagi kalangan Nahdatul Ulama, nama Walisongo tidaklah asing karena sebagian besar kalangan Nahdatul Ulama sudah pernah berziarah ke makam Walisongo. Walisongo terdiri dari sembilan wali, antara lain: 1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), 2. Sunan Ampel (Raden Rahmat), 3. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim), 4. Sunan Drajat (Raden Qasim), 5. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), 6. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin), 7. Sunan Kalijaga (Raden Said), 8. Sunan Muria (Raden Umar Said), dan 9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Dari hasil penelitian Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Malang dan Panitia Penelitian dan Pemugaran Sunan Giri, Sunan Syekh Siti Jenar termasuk jajaran Walisongo. Namun, karena kontroversi ajarannya dianggap berbahaya bagi umat Islam, maka beliau dihukum mati dan tidak tercamtum sebagai Walisongo.

Dakwah dan Perjuangan

            Dakwah Walisongo bisa dikatakan dakwah yang bersinergi dan berkesinambungan. Hal tersebut dapat diketahui dari silsilah keluarga para wali. Ternyata, satu wali dengan yang lainnya berada pada satu garis keturunan dari Jamaluddin Husein. Hubungan keluarga antara para wali bisa dilihat dari skema di bawah:






Pola dan Media Dakwah Walisongo

            Ada berbagai cara yang digunakan Walisongo untuk menyebarluaskan Agama Islam. Walisongo telah membuktikan bahwa dalam menyebarluaskan islam tidaklah harus menggunakan cara yang rumit, dakwah dapat dilakukan secara sederhana namun mengandung hikmah dan motivasi yang tinggi. Selain melalui perdagangan, pernikahan, dakwah, Walisongo sangat mengedepankan penyebarluasan Islam melalui pendidikan dan akultrasi serta asimilasi budaya. Hal inilah yang menjadi ciri khas dari Walisongo sehingga bisa menjadikan agama Islam tetap bertahan di Indonesia hingga saat ini.

            Dalam dunia pendidikan, nama Sunan Giri sudah tidak asing lagi di dunia pesantren. Pasalnya, beliau adalah pelopor dan perintis berdirinya pesantren di Jawa Timur. Dalam menyampaikan dakwahnya, beliau sangat memperhatikan generasi muda. Beliau menanamkan nilai luhur agama Islam dalam bentuk permainan anak seperti: Jelungan, Jamuran, Bendi-Gerit, Ilir-ilir, Jor, Gula-Ganti, Cublak-cublak Suweng dan sebagainya. Selain itu, beliau juga diklaim sebagai pencipta gending “Asmaradhana” dan “Pucung” yang sangat digemari masyarakat pada masa itu.

            Selain Sunan Giri, yang tidak kalah menarik adalah cara dakwah dari Sunan Kalijaga, Sunan Muria dan Sunan Gresik. Ketiga Sunan ini terkenal menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah. Dengan menanamkan nilai-nilai agama Islam dalam pertunjukan wayang kulit yang diiringi gamelan, masyarakat bisa memperoleh hikmah sekaligus tetap menjaga kebudayaan asli jawa. Berbeda lagi dengan Sunan Bonang yang menggunakan alat musik Bonang yang disertai dengan tembang jawa yang syarat akan dakwah Islam. Begitu juga Sunan Drajat yang menggunakan kesenian lokat sebagai media dakwah.

            Cara dakwah lain ditempuh oleh Sunan Ampel. Beliau menggunakan kerajinan yang berasal dari akar-akar tumbuhan tertentu dan rotan yang dibagikan kepada masyarakat dengan cara menukar kerajinan tersebut dengan dua kalimat syahadat. Masyarakat antusias terhadap kerajinan tersebut karena dapat menjadi obat untuk beberapa penyakit. Sedangkan Sunan Kudus menggunakan mitologi dan kepercayaan penduduk yang masih memegang erat kepercayaan agama hindu.

            Itulah tadi beberapa metode yang ditempuh Walisongo dalam menyebarluaskan Agama Islam. Kita dapat mengetahui bahwa para sunan memiliki jiwa seni yang tinggi. Hal tersebut semata-mata dilakukan untuk mensiratkan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan tidak suka memaksa.

Dakwah Tanpa Kekerasan

Sebagai penerus perjuangan dakwah Islam, kita sudah sepatutnya menjadikan Walisongo sebagai tauladan dalam berdakwah. Pada kenyataannya, akhir-akhir ini banyak kita lihat orang yang mengaku dirinya Islam namun mereka berdakwah dengan cara yang salah. Mereka bertindak menggunakan kekerasan, destruktif dan semena-mena. Liar seperti hewan yang tidak memiliki akal. Padahal, di dalam islam Rasullullah SAW mengajarkan kita untuk bersikap santun dan tegas. Tapi tidak boleh kita mengartikan tegas sebagai tindakan keonaran. Sebagai umat muslim, kita harus menggunakan hati dan akal kita dalam menyelesaikan masalah. Kita bisa mencontoh akhlak walisongo yang dengan sabar dan ulet berdakwah demi mengibarkan panji-panji Islam. Walisongo tidak pernah menggunakan kekerasan dalam berdakwah karena itu justru akan membuat orang menjadi takut. Islam bukanlah agama yang harus ditakuti, melainkan agama yang penuh kasih sayang.

Dakwah di Era Modernisasi           

Di era globalisasi ini, kemajuan teknologi semakin cepat. Seseorang bisa mendapatkan informasi dengan mudah dan cepat. Berbagai macam alat dibuat untuk membantu kehidupan manusia. Hal ini tentu menjadi momok tersendiri bagi kita yang ingin berdakwah. Bagaimana tidak? Kita dihadapkan pada masa yang penuh godaan. Jika dulu walisongo menggunakan media seperti wayang kulit untuk berdakwah, maka kita akan sulit untuk menggunakan metode serupa. Saat ini banyak hiburan yang membuat orang terlena. Lantas apa yang harus kita lakukan? Haruskan kita menyerah pada keadaan? Jawabannya “TIDAK”. Dengan adanya kemajuan teknologi, kita justru harus memanfaatkannya sebagai media dakwah. Kita bisa membuat berbagai macam aplikasi yang bisa menambah khazanah ilmu pendidikan bagi masyarakat luas, kita bisa berdakwah melaui tulisan di media sosial, kita bisa menggunakan berbagai media elektronik untuk menyebarluaskan agama Islam. Oleh karena itu, sebagai generasi harapan bangsa, kita jangan menyerah dan jangan lelah untuk berdakwah. Kita gunakan semangat Rasulullah SAW dan Walisongo yang berjuang tanpa lelah untuk menggaungkan nama Islam di mata dunia. Kita harus percaya “Man Jadda Wa Jadda” dan Allah tidak pernah tidur.  

Inilah beberapa foto saya saat berziarah ke makam walisongo









Keywords: Ahlussunnah wal jamaahWalisongoIndonesia Mercusuar Dunia

Tambah Wawasan Keislaman Anda:

4. Dakwah teduh dan cinta tanah air
5. Streaming dakwah Islam terlengkap

                                                            Ikuti Kontes Blog Walisongo...!!!

You Might Also Like

3 komentar

  1. Bagus, saya masih keturunan Sunan Giri. Mohon dikonfirmasi mengenai Eyang kami, Kyai Nada Besari, apakah masih keturunan dari Rosul S'AW?

    Mohon pencerahannya di WA kami, 0812 8979 6907, yaaa...Terima kasih.

    Eko Marwanto, S.H.I., M.H. bin Sardiwan bin Samini bin Nawiarsa Djakawitana bin KyaiNada Besari.

    BalasHapus
  2. Assalaamu 'alaikum.

    Saudaraku, Adm., mohon dikoreksi karena ada k3salahan yakni Sunan Ampel adalah cucu dari Syaikh Jamaluddin Husayn. Bukan orang yg sama.
    Mohon diperhatikan. Mohon maaf, yaa

    Eko Marwanto, S.H.I., M.H.
    Peneliti Nasab Silsilah dan Penulis Pohon Nasab Silsilah Keluarga Besar Trah Kyai Nada Besari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam Pak Marwan. Terima kasih atas koreksinya. Ternyata memang ada kesalahan karena kurang ketelitian dari penulis.

      Hapus

Popular Posts

Like us on Facebook